Ketika Nabi Allah Saw memutuskan untuk bersembunyi dari pandangan kaum Quraisy dan melarikan diri ke lembah Abu Thalib karena khawatir akan nyawanya, beliau berkonsultasi dengannya dan Abu Thalib pun mendorongnya untuk melakukan hal itu. Kemudian Abu Thalib menyarankan kepada Amirul Mukminin Ali As agar ia tidur di ranjang Nabi sehingga ia dapat melindunginya dari musuh dengan nyawanya, dan Amirul Mukminin Ali As menerima saran ini. Maka ketika malam tiba dan orang-orang pergi tidur, Abu Thalib datang bersama Amirul Mukminin Ali As ke rumah Nabi dan membangunkannya dari tidur, dan Amirul Mukminin Ali As tidur di ranjangnya, sambil berkata: “Ayah, aku pikir aku akan dibunuh.” (Bihar al-Anwar, Jilid 36, Hal. 45 dan al-Fushul al-Mukhtarah, Jilid 1, Hal. 58)
* * * * * * * * * *
Ketika kaum Quraisy mengetahui perlakuan baik Raja Najjasyi terhadap Ja’far dan para sahabatnya serta penghormatannya kepada mereka, mereka merasa tidak senang dengannya dan marah kepada Nabi Muhammad Saw beserta para sahabatnya. Kemudian mereka sepakat untuk membunuh Nabi Muhammad Saw dan membuat perjanjian yang menyatakan bahwa mereka tidak akan menikahi Bani Hasyim, tidak akan berjual beli dengan mereka dan tidak akan melakukan pertemuan apa pun dengan mereka. Penulis perjanjian ini adalah Mansur bin Ikrimah Abdari, yang kemudian tangannya lumpuh. Mereka menggantung naskah perjanjian itu di dalam Ka’bah. Kemudian Bani Hasyim dikepung di lembah itu pada malam pertama Muharram pada tahun ketujuh pengutusan Nabi Muhammad Saw. Keturunan Mutthalib bin Abdu Manaf juga tinggal bersama Abu Thalib dan Bani Hasyim pada waktu itu, tetapi Abu Lahab pergi ke sisi kaum Quraisy dan membantu mereka melawan Bani Hasyim dan Bani Mutthalib.
Kaum Quraisy kala itu mencegah makanan mencapai lembah itu dan Bani Hasyim hanya keluar dari lembah itu selama musim haji. Perkara mereka sangatlah sulit, tangisan anak-anak mereka dapat terdengar; sebagian dari kaum Quraisy senang akan hal ini dan sebagian lainnya sedih; kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Saw tentang apa yang terjadi pada perjanjian mereka dan rayap telah menghancurkan semua pasal yang berisi penindasan dan kejahatan dan hanya tulisan “Dengan nama Allah” yang tersisa di dalamnya. Kemudian Nabi Saw menyampaikan kabar ini kepada Abu Thalib. Abu Thalib menceritakannya kepada para tetua kaumnya, dan mereka datang ke Masjidil Haram.
Abu Thalib berkata kepada kaum Quraisy: “Keponakanku, yang tidak pernah berbohong kepadaku, telah memberitahuku bahwa Allah mengutus rayap untuk mengilangkan tulisan yang berisi semua perkara terkait penindasan dan pemutusan tali silaturahmi dan hanya nama Allah yang tersisa. Jika dia mengatakan yang benar, tinggalkanlah perilaku jahat kalian, dan jika dia berbohong, aku akan menyerahkannya kepada kalian untuk dibunuh atau dibebaskan.” Mereka berkata: “Engkau telah berbuat adil.” Maka mereka mengambil tulisan itu dan membukanya; mereka mendapati isinya persis seperti yang dikatakan Rasulullah. Akibatnya, mereka terkejut dan menyesal. Abu Thalib berkata: “Mengapa kita harus tetap dikekang dan dikepung kendati perkara ini telah dijelaskan?” Kemudian dia dan para sahabatnya pergi ke antara tirai Ka’bah dan berkata: “Ya Tuhan kami! Tolonglah kami melawan orang-orang yang menindas kami, memutuskan tali silaturahmi dan mengharamkan yang halal.” Kemudian mereka kembali ke lembah.
Sekelompok Quraisy menyesali perbuatan mereka, termasuk: Mut’im bin Adi, Adi bin Qays, Zam’ah bin Aswad, Abu al-Bakhtari bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah. Mereka mengenakan pakaian dan senjata mereka lalu pergi ke Bani Hasyim dan Bani Mutthalib dan memerintahkan mereka untuk kembali ke rumah mereka, yang kemudian mereka lakukan dan kembali pulang ke rumah masing-masing. Ketika kaum Quraisy melihat ini, mereka tidak berdaya dan menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengekang dan mengepung mereka. Kaum Muslim meninggalkan lembah pada tahun kesepuluh setelah pengutusan Nabi Saw. (at-Thabaqat al-Kubra, Jilid 1, Hal. 162)