Dr. Tijani mengkritik pernyataan kaum Sunni mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan hari Ghadir, dengan menyatakan bahwa sebagian kaum Sunni memiliki klaim yang aneh mengenai ayat penyempurnaan agama dan peristiwa turunnya ayat tersebut:
Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya:
Muhammad bin Yusuf meriwayatkan dari Sufyan dari Qais bin Muslim dari Tariq bin Shihab bahwa sebagian orang Yahudi berkata: “Jika ayat ini diturunkan kepada kami, kami akan menjadikan hari itu sebagai hari raya?”
Umar bertanya: Ayat apa?
Mereka berkata: Ayat “Hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu…”
Umar berkata: Aku tahu di mana ayat ini diturunkan; ayat ini diturunkan kepada Nabi ketika beliau sedang berada di Arafah!
***
Ibnu Jarid meriwayatkan dari Isa bin Haritsah Al-Ansari: “Kami sedang duduk dalam suatu pertemuan lalu seorang Kristen berkata: Wahai kaum Muslimin! Sebuah ayat telah diturunkan kepada kalian yang jika diturunkan kepada kami, kami akan menyatakan hari dan momen itu sebagai hari raya.” Dan ayat itu adalah: “ Hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu…”
Tidak seorang pun dari kami menjawab sampai aku bertemu Muhammad bin Ka’b al-Qartani dan bertanya kepadanya.
Dia berkata: Mengapa kalian tidak menjawab?
Sesungguhnya, Umar bin Khattab berkata bahwa ayat ini diturunkan kepada Nabi ketika beliau berdiri di Gunung Arafat pada Hari Arafah. Oleh karena itu, sejak hari itu, umat Islam merayakan hari ini sebagai Hari Raya dan tidak ada seorang pun yang mempermasalahkannya.”
***
Dalam riwayat kedua, perawi mengakui bahwa tidak seorang pun dari kami menanggapi orang-orang Kristen itu, karena mereka tidak mengetahui sejarah dan keagungan hari itu! Dan mungkin perawi itu sendiri juga heran mengapa umat Islam mengabaikan perayaan pada hari seperti itu. Itulah sebabnya ia bertanya kepada Muhammad bin Ka’b al-Qartani dan beliau memberikan jawaban tersebut.
Jadi, jika hari ini dikenal oleh umat Islam dan benar-benar merupakan hari raya, maka para perawi ini pasti mengetahuinya, baik mereka dari kalangan Sahabat maupun Tabi’in. Karena yang pasti bagi mereka adalah bahwa umat Islam tidak merayakan lebih dari dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Idha). Bahkan para ulama dan ahli hadits seperti Bukhari dan Muslim dan lainnya telah memasukkan bab dalam kitab mereka di bawah “Kitab Dua Hari Raya” atau “Shalat Dua Hari Raya dan Khutbah Dua Hari Raya,” dan tidak ada hari raya ketiga di antara mereka. Oleh karena itu, mereka pasti tidak tidak menganggap Hari Arafah sebagai hari raya juga.”
Apa jawaban atas penjelasan-penjelasan ini?
Jawaban pertama: Riwayat tersebut palsu.
Jelas dari riwayat-riwayat ini bahwa umat Islam mengabaikan hari yang penting dan mulia itu dan tidak merayakannya.
Oleh karena itu, terkadang orang Yahudi dan Kristen keberatan dan mengatakan bahwa jika ayat ini diturunkan tentang kita, kita akan menyatakan hari itu sebagai hari raya.
Oleh karena itu, Umar terpaksa menjawab mereka bahwa saya mengetahui turunnya ayat tersebut; ayat ini diturunkan ketika Nabi sedang berdiri di Arafah!
Jelas sekali bahwa riwayat ini palsu; antara Umar sendiri berbohong atau mereka yang meriwayatkan riwayat ini dari Umar bin Khattab pada masa Bukhari membuatnya sendiri yang ingin mendamaikan antara pandangan dan pendapat orang Yahudi dan Kristen – bahwa hari itu adalah hari agung dan seharusnya menjadi hari raya – dan antara tidak merayakannya pada hari yang penting itu dan mengabaikannya.
Penting sekali bahwa Idul Ghadir menjadi salah satu perayaan terbesar umat Islam, karena pada hari itu lah Allah SWT menyempurnakan agamanya dan melengkapi nikmatnya kepada manusia serta memilih Islam untuk mereka.
Oleh karena itu, Hari Raya pertama – yang disebut Hari Raya kecil- adalah Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan.
Hari Raya kedua – yang disebut Hari Raya besar- adalah Idul Adha (Idul Qurban) dan tanggalnya adalah tanggal 10 Dzulhijjah.
Jelas bahwa para jamaah haji Baitullah setelah melaksanakan Tawaf Ifadhah, melempar Jumroh Aqaba dan setelah berkorban dan mencukur kepala, keluar dari pakaian ihram dan itu adalah tanggal 10 Dzulhijjah. Pada kesempatan ini, mereka saling mengucapkan selamat.
Ihram dalam ibadah haji seperti bulan Ramadhan, di mana beberapa hal dilarang bagi orang yang berpuasa dan Idul Fitri menjadikan semua hal yang dilarang itu diperbolehkan. Demikian pula, seseorang yang sedang dalam keadaan ihram selama haji tidak dapat keluar dari keadaan ihram dan tidak bisa menggunakan hal-hal seperti parfum, perhiasan, pakaian yang dijahit, memancing, memotong kuku, mencukur rambut atau hubungan suami istri yang diperbolehkan baginya, kecuali pada tanggal 10 Dzulhijjah dan setelah Tawaf Ifadhah.
Dari sini jelas bahwa Hari Arafah bukanlah hari raya. Tanggal 10 Dzulhijjah lah yang dirayakan semua Muslim di Timur dan Barat dunia dan di dalamnya saling mengucapkan selamat.
Oleh karena itu, perlu dikatakan: turunnya ayat kesempurnaan pada hari Arafah jauh dari kebenaran dan tidak meyakinkan.
Tampaknya para penganut teori kekhalifahan dan para pendiri teori ini, setelah pengumuman suksesi Amirul Mukminin As di Ghadir Khum, telah memutarbalikkan status turunnya ayat tersebut.
Akan lebih baik bagi umat Islam jika mereka menetapkan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari Arafah, karena pada hari Ghadir, lebih dari seratus ribu orang berkumpul.
Dalam Haji Wada’, tidak ada peristiwa yang menyerupai hari Arafah selain Ghadir dengan begitu banyak jamaah haji berkumpul di satu tempat, karena orang-orang yang tersebar sepanjang hari-hari haji dan hanya berkumpul di satu tempat, yaitu hari Arafah dan di Arafah.
Oleh karena itu, kita melihat bahwa mereka yang meyakini turunnya ayat tersebut pada Hari Arafah percaya bahwa ayat itu diturunkan pada hari itu setelah khutbah terkenal Rasul Saw dan beberapa perawi hadits telah meriwayatkannya.
Bahkan, Umar bin Khattab sendiri yang menciptakan status turunnya ayat ini, karena ia adalah orang nomor satu dalam melawan kekhalifahan Amirul Mukmnini Ali As dan ia adalah yang mencetusi baiat kepada Abu Bakar pada Hari Saqifah.
Situasi mencapai titik di mana ia mengancam akan membakar orang-orang yang menentang baiat kepada Abu Bakar, yang telah berkumpul di rumah Fatimah az-Zahra jika mereka tidak keluar untuk berbaiat kepada Abu Bakar.
Jadi, seseorang yang berani melakukan kekerasan seperti itu dalam masalah ini, tidak sulit baginya untuk meyakinkan orang bahwa ayat ini diturunkan pada Hari Arafah.
Orang-orang ini memutarbalikkan ucapan Nabi Muhammad Saw mengenai kekhalifahan Ali bin Abi Thalib As, sementara kaum Muslimin, yang dipimpin oleh Amirul Mukminin sibuk mempersiapkan dan menguburkan jenazah Nabi Muhammad Saw, mereka melontarkan masalah baiat untuk Abu Bakar kepada masyarakt di Saqifa Bani Sa’idah tanpa persiapan mental apa pun dari mereka dan mereka mengabaikan Hadits Ghadir sepenuhnya. Jadi siapa lagi yang dapat membantah dan berpendapat bahwa ayat tersebut diturunkan pada hari Ghadir setelah semua kejadian ini?!
Bagaimanapun juga, makna ayat tersebut tak kurang-kurang daripada Hadits Wilayat. Meskipun artinya adalah penyempurnaan agama dan penyempurnaan berkah dan keridhaan Allah. Jadi biarlah hari itu menjadi hari raya spiritual, bukan hari raya secara nyata!
Baca lebih lanjut di bagian kedua.
Sumber Referensi
- Saheel-e Ghadir: Hal. 122-99.
- Sahih Bukhari: Jilid 6, halaman 63.
- Ad-Dur Al-Mantsur (Suyuthi): Jilid 3, Hal. 18.
- Tarikh al-Khulafa (Ibnu Qutaibah): Jilid 1, hlm. 19.
- Ad-Dur al-Mantsur (Suyuthi): Jilid 3, Hal. 18.