Most searched:

Mahdi

Keutamaan menanti Imam Mahdi dalam ucapan Imam Ali

Menanti kemunculan (faraj), dalam pandangan Amirul Mukminin (as), bukan sekadar bersabar menghadapi kesulitan, melainkan jalan ilahi untuk menjaga iman, harapan, dan gerak yang sadar di masa kegaiban.

Dalam budaya Syiah, menanti faraj adalah keyakinan yang mendalam dan pendekatan yang aktif. Amirul Mukminin (as) dengan menjelaskan kedudukan menanti, memperkenalkannya sebagai amalan yang paling dicintai di sisi Allah dan setara dengan jihad di jalan kebenaran.

Makna menanti faraj
Menanti adalah keadaan di mana seseorang tidak puas dengan kondisi yang ada dan berusaha mencapai keadaan yang lebih baik. “Faraj” berarti kelapangan, yang biasanya datang setelah kesulitan dan tekanan.

Dalam logika menanti, kesulitan tidak boleh menyebabkan keputusasaan, melainkan menjadi pendahulu bagi kelapangan dan rahmat ilahi.

Pentingnya menanti faraj
Dalam logika menanti, kesulitan tidak boleh menyebabkan keputusasaan, melainkan menjadi pendahulu bagi kelapangan dan rahmat ilahi. Oleh karena itu, ketika Zaid bin Suhan bertanya kepada Amirul Mukminin (as): “Amalan apa yang paling dicintai di sisi Allah?” beliau menjawab: “Menanti faraj (menanti kelapangan dan kemunculan).” [1]

Menanti yang membangun
Masa sulit kegaiban disertai ujian akidah yang berat yang dapat mengguncang iman. Namun Ahlulbait mengajak orang-orang beriman untuk tetap teguh, menjaga harapan, dan menanti secara sadar.

Dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq (as) dari Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Tunggulah faraj (Imam Zaman (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif)) dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai di sisi Allah SWT adalah menanti faraj.”

Maka menanti adalah amalan ilahi yang dicintai Tuhan, yang dalam kondisi tersulit menjaga manusia dari jatuh ke dalam keputusasaan.

Penanti sejati
Dalam penantian yang hakiki, faktor-faktor yang menumbuhkan keputusasaan tidak memiliki tempat. Masyarakat penanti adalah masyarakat yang hidup, kuat, dan dinamis. Manusia di dalamnya selalu berada dalam ujian dan latihan bagaimana hidup berdasarkan pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan agama.

Amirul Mukminin (as) bersabda tentang ciri penanti sejati:
“Barang siapa menanti urusan kami (kemunculan Imam Zaman (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif)), maka ia seperti seorang pejuang yang berlumuran darah di jalan Allah (memiliki pahala syahid).”

Perumpamaan ini menunjukkan nilai tinggi menanti dan kesetaraannya dengan jihad di jalan Allah. [2]

Pahala para penanti kemunculan
Salah satu kewajiban penting setiap Muslim adalah menanti kemunculan al-Qaim, namun penantian ini tidak tanpa pahala. Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Barang siapa menaati Ahlulbait, ia akan bersama kami di Hadhirat al-Quds, dan siapa yang menanti terwujudnya urusan kami, maka ia mendapatkan pahala seperti seorang mujahid yang berlumuran darah di jalan Allah.” [3]

Ya, bagi para penanti di masa kegaiban, cukup sebagai pahala bahwa nama mereka dicatat dalam barisan para pejuang di jalan Allah.

Penderitaan para penanti di akhir zaman
Di akhir zaman, ketika gelombang peristiwa dan bencana menekan manusia dari segala arah, tidak boleh putus asa, bahkan harus dipandang sebagai tanda dan pendahulu terbukanya pintu rahmat ilahi.

Sebagaimana Amirul Mukminin (as) bersabda:
“Ketika kesulitan mencapai puncaknya, maka kelapangan telah dekat, dan ketika lingkaran bala semakin sempit, maka kenyamanan dan ketenangan akan datang.” [4]

Dalam riwayat lain dari Amirul Mukminin (as) disebutkan:
“Betapa panjang penderitaan ini dan betapa jauhnya harapan dan keselamatan.”

Mengapa beliau mengatakan harapan itu jauh? Para penanti dapat mendekatkan kemunculan dengan menyiapkan syarat-syaratnya, yaitu memperbaiki diri, kesiapan penuh, dan doa yang terus-menerus. Jika hal-hal ini ditinggalkan, maka kemunculan akan tertunda. Oleh karena itu, kemunculan dari satu sisi dekat dan dari sisi lain jauh. [5]

Tanggung jawab para penanti
Penanti sejati Imam Zaman (ajjalallahu ta‘ala farajahu asy-syarif) adalah orang yang menyesuaikan gaya hidupnya dengan keridaan dan kehendak tuannya, agar layak menerima perhatian dan karunia khusus dari Imam.

Amirul Mukminin (as) dalam menjelaskan kedudukan Imam di tengah umat bersabda:
“Perumpamaanku di tengah kalian seperti lampu dalam kegelapan, siapa pun yang berada dalam kegelapan akan mengambil manfaat dari cahayanya; maka wahai manusia, dengarkanlah dan pahamilah ucapanku, serta siapkan telinga hati kalian agar dapat memahami perkataanku.” [6]

Pada saat yang sama, kerinduan akan kemunculan jika tidak disertai kesiapan dan tanggung jawab, dapat berujung pada tergesa-gesa dan penyesalan. Oleh karena itu Amirul Mukminin (as) memperingatkan:
“Janganlah kalian tergesa-gesa terhadap apa yang akan datang, betapa banyak orang yang tergesa-gesa menuju sesuatu yang ketika ia telah mencapainya, ia berharap seandainya ia tidak mencapainya.”

Dalam jalan penantian, yang penting bagi seorang penempuh adalah penghambaan, ketaatan, dan kepasrahan kepada Allah Yang Maha Bijaksana, yang rahmat-Nya meliputi seluruh alam. [7]

Menanti faraj bukan sekadar menunggu masa depan, melainkan gaya hidup beriman di masa kegaiban; gaya hidup yang mengajak manusia kepada kesiapan terus-menerus, perbaikan diri dan masyarakat, serta bergerak di jalan kebenaran agar menjadi pendahulu bagi kemunculan hujjah terakhir Allah dan terwujudnya keadilan menyeluruh di bumi.

Sumber
[1] Bihar al-Anwar, jilid 52, halaman 122
[2] al-Khishal, jilid 2, halaman 616
[3] Bihar al-Anwar, jilid 52, halaman 123
[4] Nahj al-Balaghah, hikmah pendek, nomor 351
[5] Nahj al-Balaghah, khutbah 187
[6] Nahj al-Balaghah, khutbah 187
[7] Nahj al-Balaghah, khutbah 150

 

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *